Analisanusantara.com, Penajam Paser Utara – Kabupaten Paser memiliki posisi strategis dalam memperkuat perekonomian regional sekaligus mendukung ketahanan pangan Kalimantan Timur. Potensi sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan hortikultura menjadi modal penting bagi daerah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan memperluas akses pasar.
Posisi Paser yang berada dalam kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) turut membuka peluang pengembangan rantai pasok pangan regional. Meningkatnya kebutuhan pangan dan aktivitas ekonomi di kawasan IKN dinilai dapat menjadi momentum bagi daerah untuk memperkuat sektor produksi sekaligus mendorong pengolahan komoditas di tingkat lokal.
Selama ini, sebagian hasil pertanian dan perikanan masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga dan keterbatasan nilai tambah, khususnya ketika produksi meningkat pada masa panen.
Melihat kondisi tersebut, pemuda lokal asal Paser, Al Ihwan Fauzi, mengambil inisiatif melalui gerakan “The Green Catalyst”. Gerakan tersebut diarahkan untuk mendorong hilirisasi komoditas lokal melalui pengolahan pascapanen, penguatan legalitas produk, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas.
“Kekayaan hasil tani dan tangkapan nelayan di Paser adalah aset luar biasa. Namun, potensi ini tidak boleh berhenti hanya sebagai komoditas mentah yang rentan mengalami penurunan harga saat panen raya,” ujar Fauzi.
Ia menilai generasi muda memiliki ruang untuk mengambil peran dalam menciptakan nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan masyarakat.
“Pemuda Paser harus mengambil peran sebagai pemicu perubahan untuk mendorong hilirisasi pascapanen berbasis ekonomi sirkular,” katanya.
Dalam tahap awal, gerakan The Green Catalyst menargetkan penyerapan sekitar 3–5 ton komoditas mentah per bulan. Komoditas tersebut diarahkan untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus membuka peluang pasar baru bagi hasil produksi masyarakat.
Program tersebut juga mencakup pendampingan terkait legalitas dan standar mutu produk, termasuk pemenuhan persyaratan halal dan perizinan usaha pangan sesuai ketentuan yang berlaku.
Di sisi pemasaran, pengembangan akses distribusi melalui skema business-to-business (B2B) menjadi salah satu fokus. Jalur tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sama dengan pelaku usaha, katering, industri, serta jaringan logistik dan rantai pasok pangan yang melayani kawasan IKN.
Pengembangan hilirisasi diharapkan dapat memberikan alternatif bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha lokal untuk memperoleh nilai tambah dari hasil produksi mereka. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari komoditas tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi dapat berkembang melalui proses pengolahan dan distribusi.
Bagi Paser, penguatan sektor pangan juga memiliki arti strategis dalam menghadapi perkembangan ekonomi Kalimantan Timur. Pertumbuhan IKN memberikan peluang sekaligus tantangan bagi daerah-daerah di sekitarnya untuk meningkatkan kapasitas produksi, kualitas produk, serta kesiapan memasuki rantai pasok yang lebih luas.
Sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, dan generasi muda menjadi faktor penting dalam mengoptimalkan peluang tersebut. Penguatan produksi, hilirisasi, legalitas, distribusi, dan akses pasar secara berkelanjutan diharapkan dapat memperkuat posisi Paser dalam perekonomian regional sekaligus mendukung ketahanan pangan Kalimantan Timur. (Ham)

















































