Analisanusantara.com, Samarinda — Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi ajang konsolidasi besar-besaran menjelang kontestasi politik mendatang. Digelar di Hotel Mercure, Samarinda, Sabtu (19/7/2025), forum lima tahunan ini tak hanya menyusun struktur organisasi, tapi juga mempertegas peta kekuatan internal Golkar Kaltim—dengan satu nama yang kembali menguat: Rudy Mas’ud.
Mengutip herald.id Ketua DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, secara tegas menyatakan dukungannya. Ia menyebut Rudy sebagai sosok tak tergoyahkan di tubuh Golkar Kaltim.
“Saya rasa, tak ada yang berani melawan Rudy,” ujar Bahlil di hadapan ratusan kader yang memadati ruang Musda, barang sudah masuk, tambah Bahlil saat ditanya wartawan mengenai skema terpilihnya Rudy Mas’ud sebagai calon tunggal.
Musda kali ini memang hanya menghadirkan satu nama calon ketua, yakni Rudy Mas’ud. Ia maju kembali sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kaltim dan berpeluang besar melanjutkan kepemimpinan untuk satu periode ke depan, tanpa perlawanan berarti.
Menurut Bahlil, forum Musda bukanlah seremoni semata. Ia menekankan pentingnya hasil nyata berupa tiga keputusan strategis: evaluasi kinerja, penyusunan program kerja, dan rekomendasi politik—termasuk pemilihan ketua.
“Musda ini harus jadi momentum penyegaran, bukan sekadar formalitas,” tegasnya.
Kinerja Rudy selama memimpin Golkar Kaltim dinilai sukses besar, terutama dalam mengamankan 15 kursi di DPRD Provinsi dan menyumbang kemenangan pasangan Prabowo-Gibran di Kaltim. Posisi Rudy kini kian solid sebagai Ketua DPD sekaligus Gubernur Kaltim terpilih.
Bahlil pun menegaskan, struktur partai harus segera dirampungkan hingga ke level desa dan kecamatan.
“Ujung tombak kita ada di bawah. Kalau desa dan kecamatan tidak solid, pusat pun akan rapuh,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti pentingnya konsolidasi berbasis teknologi, mengingat 72 persen pemilih di Pemilu 2029 mendatang merupakan kelompok usia 18–50 tahun.
“Golkar harus tampil sebagai partai yang akrab dengan generasi digital. Karakter kader juga harus dimodifikasi dengan sentuhan teknologi,” kata Menteri Investasi itu.
Dalam pidato politiknya, Bahlil mengingatkan bahwa tantangan politik kini tak lagi hanya soal elektabilitas, melainkan juga geopolitik dan ekonomi global.
“Perang hari ini bukan soal peluru, tapi tarif dan strategi ekonomi. Kita butuh kader yang paham isu global,” katanya.
Ia berharap Golkar Kaltim bisa menjadi model kekuatan yang solid dan siap menjawab tantangan zaman.
“Kalau Kaltim kuat, maka Golkar nasional juga akan kokoh,” tegasnya.
Meski belum memberikan pernyataan resmi di hadapan forum, dukungan terhadap Rudy Mas’ud terlihat masif dan hampir tanpa celah. Suasana ruangan penuh aura soliditas—menggambarkan stabilitas internal partai.
Musda XI pun ditutup dengan pesan penting dari Bahlil: “Golkar tak boleh hanya muncul saat pemilu. Kita harus hadir dalam kerja nyata untuk masyarakat,” serunya.
Tak lupa, ia menekankan pentingnya regenerasi berjenjang yang disiapkan sejak dini.
“Kita butuh kader muda yang visioner, tech-savvy, dan paham geopolitik,” katanya.
Dengan dukungan total dari DPP, kembalinya Rudy Mas’ud sebagai nahkoda Golkar Kaltim tampaknya tinggal menunggu ketukan palu. Musda XI kali ini bukan sekadar konsolidasi organisasi, melainkan penegasan ulang bahwa Partai Golkar Kaltim siap melangkah lebih solid, strategis, dan modern menyambut Pilkada 2024 dan Pemilu 2029. (Ham)













































